JANGAN MENYESAL

 


Hakim-Hakim 11 : 29 – 40

            Peribahasa yang paling tepat untuk menyatakan penyesalan di belakang adalah "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna". Artinya, sebelum berbuat sesuatu, kita harus berpikir baik-baik agar tidak menyesal di kemudian hari karena penyesalan yang terlambat sudah tidak ada artinya lagi.

 

     Latar belakang  kehidupan dari Panglima Yefta ada di kitab Hakim-hakim Pasal 11:1-4

Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead. 2 Juga isteri Gilead melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: "Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain." 3 Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia.

 

Kisah Yefta ini dimulai dengan kisah yang sedih, karena adanya penolakan atas latar belakang ibunya. Tetapi Tuhan mengingat Yefta dan mengangkat dia menjadi panglima perang israel untuk menyerang Amon, karena para tua-tua Gilead meminta Yefta menjadi Panglima perang mereka.

 

            Peristiwa pentingnya adalah kemenangan atas Amon, sebab Roh Tuhan berkuasa atas Yefta dan ia memukul mundur bani Amon dengan telak. Tetapi sebelum berperang Yefta berjanji kepada Tuhan akan mempersembahkan apapun yang keluar pertama kali dari rumahnya untuk menyambutnya, jika ia menang. Ternyata yang keluar menyambutnya adalah anak tunggal perempuan satu-satunya. Karena itu anak perempuannya minta waktu 2 bulan bersama-sama teman gadisnya untuk menangisi kegadisannya.

 

            Kisah Yefta ini adalah contoh paling ceroboh  dan membawa dampak emosional yang sangat berat. Nazar yang diucapkan sebelum berperang melawan bani Amon ada di Hakim-hakim 11:30-31

30 Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, 31 maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran."

 

            Ketika Tuhan memberikan Yefta untuk memenangkan peperangan atas Amon, siapa yang keluar dari rumahnya pertama kali? Ternyata orang pertama yang keluar dari rumahnya untuk menyambutnya dengan rebana dan tari-tarian adalah anak perempuan tunggalnya.

 

            Apa perbedaan Janji dan nazar? Kalau janji adalah kesanggupan berbuat sesuatu yang umumnya bersifat horizontal (antarmanusia), sedangkan nazar adalah janji rohani yang bersifat vertikal dan sakral yang diucapkan secara khusus kepada Allah, Janji mengikat secara moral di masyarakat, sementara nazar melibatkan ikatan religius yang kudus dan penuh konsekuensi rohani. Janji adalah bagian dari etika hidup bermasyarakat, sedangkan nazar bersifat sukarela dan tidak dipaksakan oleh aturan iman.

 

            Apakah Yefta tidak menyangka bahwa anak perempuannya yang akan menyambutnya pertama kali dari dalam rumah? Ya, Yefta tampaknya benar-benar tidak menyangka bahwa anak perempuannya yang adalah anak tunggalnya—akan keluar pertama kali menyambutnya. Dalam Kitab Hakim-hakim 11, ia bernazar menyerahkan apa pun yang keluar dari rumahnya untuk Tuhan, dengan asumsi lazim bahwa hewan peliharaan yang akan menyambutnya. Apa yang dilakukan  oleh Yefta waktu melihat anak tunggalnya keluar dari dalam rumah? Yefta mengoyakkan bajunya, sambil berkata: "Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur. Pada waktu itu Yefta sadar bahwa garis keturunannya terputus karena dia cuma punya satu anak.

 

            Apa yang kita bisa pelajari dari nazar Yefta ini? Kisah Yefta mengajarkan kita untuk berhati-hati dan bijak saat berjanji kepada Tuhan. Jangan ucapkan kata-kata sembarangan atau bernazar dalam keadaan emosi. Janji atau nazar adalah hal serius yang menuntut tanggung jawab penuh. Poin Penting Ajaran tentang Nazar

  • Sifatnya Sukarela: Bernazar bukan perintah atau kewajiban mutlak, melainkan inisiatif pribadi yang timbul dari hati seseorang kepada Tuhan.
  • Mengikat dan Sakral: Begitu kata-kata nazar terucap, janji itu langsung mengikat secara rohani dan menjadi suatu keharusan untuk dipenuhi.
  • Dosa Jika Diingkari: Mengabaikan atau lupa membayar nazar yang sudah diikrarkan dipandang sebagai bentuk ketidaksetiaan atau dosa di hadapan Allah 

            Apa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita umatnya? Hal ini dapat kita lihat dan baca di dalam Matius 5: 37,

Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat

            Jangan mengucapkan nazar, karena ingin mendapatkan sesuatu yang di inginkan tanpa memikirkan akibat dan tanggung jawab yang harus di jalankan. Kita harus perhatikan, bahwa tanpa nazarpun Yefta akan tetap di sertai Tuhan, karena  Roh Tuhan sudah menghinggapi Yefta. Jadi hiduplah dengan percaya bahwa Tuhan akan menolong dan memberikan kepada kita tepat pada waktunya dan Tuhan tidak akan mengecewakan kita.

Tuhan Yesus memberkati.


Komentar

  1. Benar, jangan sampai hidup kita mengalami penyesalan dikarenakan hal yang sebenarnya tidak perlu, akibat kecerobohan dalam berjanji baik dihadapan manusia apalagi dihadapan Tuhan.

    Seringkali manusia bertransaksional dengan Tuhan seperti yang dilakukan Yefta, padahal tugas kita kerjakan kehendak-Nya, berdoa dan percaya bahwa Tuhan akan menolong dan memberikan tepat pada waktunya dan Dia tidak akan mengecewakan kita.

    Tuhan Yesus Kristus menyertai dan memberkati

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer